Rabu, 25 Januari 2023

Cantik, Tapi Membunuh...!!


Cantik, Tapi Membunuh...!!

YA…., itulah sebuah kalimat yang terlintas pada benak saya terhadap narasumber, ketika saya menyimak kisah pengalamannya pada pertemuan ke-7 dalam Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) – Gelombang 28 (Senin 23 Januari 2023). Usia yang masih muda namun memiliki segundang pengalaman, karya serta prestasi yang sangat luar biasa, sehingga benar-benar memberikan kesan dapat “membunuh” kepercayaan diri seorang pria bila ingin mendekatinya.


Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. yang merupakan salah satu guru mata pelajaran IPA di SMPN 1 Cipendeuy, Subang, Jawa Barat, kini berkesempatan menjadi narasumber pada kegiatan Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) – Gelombang 28, dengan mengangkat tema “Mengatasi Writer’s Block”. (profil Ibu Ditta, dapat disimak melalui tautan berikut: https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html?m=1 )


Diawali dengan menceritakan kisah pengalamannya sejak dini (tingkat sekolah dasar), yang gemar membaca dan menulis dalam sebuah buku “Diary” (saat kata Diary disebutkan oleh Ibu Ditta, penulis jadi teringat masa kecil dulu…saat saling bertukar buku diary dengan pacar setiap 1 minggu sekali…wkwkwkwk…sungguh dunia percintaan yang Ajaib…wkwkwk), hingga menyampaikan sudut pandangnya dari sebuah aktifitas menulis dapat dilakukan oleh siapa saja, maka kesan yang dipancarkan oleh Ibu Ditta (walaupun melalui sebuah Chat WhatsApp), sunggu luar biasa. Kesan yang benar-benar menunjukan kepada kita semua yang menyimak, bahwa begitu luasnya wawasan serta mantapnya pengalaman dalam setiap melakukan sebuah presentasi materi.


Ucapan demi ucapan yang disampaikannya, begitu runut dan terarah seakan menuntun kita dalam sebuah aktifitas berjalan-jalan sore disebuah taman lalu dijelaskannya olehnya kepada kita betapa indahnya taman tersebut, sejuk , damai, serta dinamis dengan segala hal yang terjadi ditaman tersebut.


Dijelaskan olehnya, “Menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yg tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer penulis naskah film/sinetron, ada ghost writer, techincal writer, hingga UX writer, dll.”, ucap Ibu Ditta melalui sebuah tulisan Chat.


Istilah writer's block sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika.


Ibu Ditta juga menjelaskan, bahwa Faktanya, penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias Writer's Block. Tak peduli tua atau muda, profesional atau belum, WB bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali WB dan cara mengatasinya.

Ibarat penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor penyebabnya, bukan? Begitu pula dengan WB. Agar bisa terhindar atau segera terlepas dari WB, maka kita perlu mengenali penyebabnya. Berikut adalah beberapa hal yang dapat mengakibatkan WB:


Mencoba metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk WB. Misal ketika jadi penyebab: Ada orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang WB. Lalu bagaimana ini bisa menjadi salah satu obat WB? Jawabannya akan berkaitan dengan faktor penyebab WB yang kedua dan ketiga.


Dalam Kamus Psikologi, Stress diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin, tegangan dan konflik. Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stress. Pada akhirnya, jangankan menulis, kita bisa merasa jenuh dan suntuk. Terserang WB deh. Maka, mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi alternatif solusi. Mempelajari hal-hal baru yang berbeda dg sebelumnya pasti menyenangkan. Beberapa teman dan saya sendiri terkadang memilih untuk sejenak rehat dan melakukan hal yang disukai untuk refreshing. Membaca buku-buku ringan untuk cemilan otak juga bisa jadi solusi mengatasi WB. Biar bagaimanapun, WB bisa terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata. Dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata. Pada akhirnya, jika diteruskan Insya Allah bisa sekaligus mengatasi WB. Terakhir yang bisa menyebabkan WB adalah terlalu perfeksionis. Hanya melalui sebuah tingkat rasa percaya diri yang sangat tinggi, dapat menjadi salah satu solusi mengatasi permasalahan dari sebuah kata perfeksioniz.

Kondisi menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb ternyata dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah free writing atau menulis bebas.


Diakhir penjelasan materi (menjelang sesi tanya jawab), Ibu Ditta memberikan sebuah Quote yang menginspirasi, yaitu “Bukankah tulisan yang buruk jauh lebih baik daripada tulisan yang tidak selesai?”.

 

LUAR BIASA….!!! Benar-benar sungguh luar biasa narasumber pada pertemuan ke-7 ini. Walaupun masih dalam usia muda,  selain hal wawasan dalam membuat sebuah tulisan tapi wawasan dalam berinteraksi dengan seseorang dapat terlihat begitu professional, dimana hal ini dapat dibuktikan ketika saya menyimak setiap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada Ibu Ditta. Tutur kata yang lembut, pengaturan tata bahasa yang baik, benar-benar “membius” saya untuk mengaguminya.

 

Tidak banyak yang dapat saya ceritakan terkait kegiatan materi ke-7 dalam Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang ke-28 ini. Hal ini dikarenakan, selain terpesona-nya dengan paras cantik yang dimiliki oleh narasumber, tapi saya juga terbuai dengan setiap penjelasan-penjelasan materinya, yang dengan cepat dapat dimengerti sehingga merangsang diri ini menjadi terinspirasi untuk melakukan penulisan cerita baru.

 

Terima kasih Ibu Ditta, atas materi, pengalaman, kisah, dan supportnya selama penyampaian materi di Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) – Gelombang 28 ini. Semoga saya juga bisa mendapat kesempatan langsung oleh Ibu Ditta, melalui bimbingan-bimbinganya dalam membuat sebuah karya tulis. 

                 Artikel ini dibuat sebagai salah satu persyaratan dalam mengikuti kegiatan Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 2.

Judul = “Cantik, Tapi Membunuh...!!”

Resume 7

Tanggal : 23 januari 2023

Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr

Materi : Mengatasi Writer's Block

Moderator : Raliyanti, S.Sos., M.Pd

Kunjungi juga : https://www.kompasiana.com/luthfiiskandar1065 

Senin, 16 Januari 2023

Break Your Limit...!!

 


Kualitas ilmu seseorang, terkadang dapat kita ketahui atau menilainya sejak awal bertemu ataupun berkenalan dengan kita. Hal ini yang dapat saya rasakan dari Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd selaku Narasumber pada sebuah pertemuan diskusi di grup WhatsApp dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 pada hari Jum’at 13 Januari 2023 pukul 19.00 WIB.

Diawal waktu Ketika moderator (Ibu Arofiah Afifi, S.Pd) memberikan kesempatan kepada narasumber untuk memulai memberikan materi, hal pertama yang dilakukan oleh Ibu Aam Nurhasanah adalah menyapa para peserta dan memperkenalkan diri dengan baik dan penuh dengan rasa rendah hati menyambut seluruh peserta Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28.

Berikut salam pembukaan yang Ibu Aam sampaikan pada saat memulai menyampaikan materi.

Selamat malam bapak ibu hebat di seluruh tanah air. Salam kenal.  Saya Ibu Aam Nurhasanah, seorang guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN SATU ATAP 4 CIPANAS, Kp.Gununghaur, Desa Pasirhaur, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.  Bahagia rasanya bisa membersamai Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) khususnya Gelombang 28 yang semangatnya luarrrrr biasa.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Omjay selaku founder KBMN, yang masih memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi sedikit pengalaman yang dimiliki.

Mungkin terlihat sederhana salam perkenalan tersebut, namun bagi saya, langkah yang dilakukan oleh Ibu Aam dalam menyapa kita (walaupun hanya melalui sebuah teks whatsapp), sangat terasa sekali aura keberhasilan dari Ibu Aam Nurhasanah.

 

Tidak hanya melakukan tegur sapa kepada para peserta, namun Ibu Aam Nurhasah langsung mengajak berinteraksi kepada peserta melalui sebuah pertanyaan yang dilontarkan melalui grup WhatsApp, yang memberikan efek yang luar biasa, yaitu secara tidak langsung meminta kepada peserta untuk fokus memperhatikan materi yang akan disampaikan olehnya.

 

Berikut pertanyaan pertama yang disampaikan oleh Ibu Aam saat memulai sesi materinya.

Sebelum kita mulai ke materi, izinkan saya bertanya sejenak, apa alasan Bapak Ibu bergabung di Kelas Belajar Menulis Nusantara(KBMN)?

 

Pertanyaan yang sederhana dan begitu mendasar ini, sejujurnya (secara pribadi) sangat-sangat begitu mengagetkan sehingga kembali menyadarkan kepada diri kita bahwa sebenarnya apa yang sedang kita cari dari mengikuti kegiatan Belajar Menulis ini, jadi tidak hanya sebatas mengikuti kegiatan menulis dan menyimak materi yang disampaikan oleh setiap narasumber, namun harus memiliki sebuah “Visi & Misi” dari sebuah aktifitas.

Begitu banyak jawaban dan respon yang begitu cepat diberikan oleh para peserta terhadap pertanyaan dari Ibu Aam tadi, yang memberi kesan para peserta selalu ingin terlihat dimata Ibu Aam. Dalam sebuah ilustrasi, ibaratnya seorang guru yang menanyakan kepada siswa-siswinya tentang sebuah studi kasus, dimana bila ada yang bisa menjawab dengan memuaskan, maka guru tersebut akan memberikan sebuah hadiah. Dikarenakan adanya sebuah hadiah yang akan diberikan oleh guru tersebut, tentunya masing-masing siswa berlomba mengangkat tangannya agar terlihat dan terpilih oleh sang guru agar diberi kesempatan untuk menjawab (tak perduli apakah jawaban itu benar ataupun salah).

Alhamdulillah…, saya adalah orang pertama yang mendapat kesempatan bisa menjawab pertanyaan tersebut, dan hadiah yang saya dapatkan adalah Respon pertama dari Ibu Aam terhadap jawaban saya tersebut.

Setelah semua peserta berlomba mengirimkan jawaban agar dapat direspon oleh Ibu Aam, maka berdampak pada ricuhnya grup WhatsApp tersebut, sehingga dengan terpaksa Admin dari Grup WhatsApp tersebut kembali mengunci kolom chat (😆😅😂Wkwkwkwkwkwk…..)

Lalu Ibu Aam menyampaikan penjelasan dari pertanyaan yang ajukan kepada kita, yaitu “Dari jawaban bapak ibu, bisa disimpulkan bahwa semua penulis punya alasan yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama yaitu belajar, menimba ilmu, hingga akhirnya bisa menulis buku.”

 

Selanjutnya, setelah semua peserta dirasa telah menyimak grup WhatsApp, maka Ibu Aam melanjutkan materinya kepada para peserta. Berikut beberapa cuplikan materi (chat) yang disampaikan oleh Ibu Aam Nurhasanah melalui Grup WhatsApp dengan tema materi “Gali Potensi Ukir Prestasi”.

 


Sesuai dengan tema malam ini, kita fokus pada bagaimana menggali potensi untuk mengukir prestasi. Jawabannya sederhana. Kita bisa mulai dengan apa yang kita sukai.  Setiap manusia diberikan kesempatan yang sama untuk menggali segala potensi yang dimiliki untuk meraih prestasi. Sebagai contoh, saya suka menulis maka saya menekuni dunia tulis. Saya menulis dari apa yang saya sukai, apa yang kita alami, atau apa yang kita kuasai. Kita bisa menulis puisi, pantun, cerpen, novel, atau kisah inspiratif yang bisa menginspirasi negeri.

Namun, untuk penulis pemula banyak sekali kendala untuk memulai tulisan karena takut tulisan jelek, takut dibuli, tidak percaya diri, takut tulisan tidak sempurna, dan keraguan dalam mempublikasi tulisan sehingga tulisannya hanya disimpan di dalam draf dan membiarkan ide itu menguap hingga berlalu begitu saja. Saya juga merasakan hal itu saat pertama kali bergabung di dalam kelas ini.

Saya bahkan dulu bergabung di gelombang 8 dan tidak lulus. Namun, saya mencoba memupuk kembali rasa semangat dalam diri hingga memutuskan untuk mengulang kelas dan lulus di Gelombang 12. Masih ingat betul saat menjadi peserta, semangat saya berkobar saat menerima materi dari Bunda Kanjeng, hingga berbuah buku antologi dengan judul Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng. Bahagia rasanya, nama saya ada di urutan pertama dari 42 penulis se-Indonesia. Buku antologi adalah buku yang ditulis bersama dengan biaya keroyokan/patungan.


Buku adalah mahkota seorang penulis. Oleh karena itu setelah lulus dari BM 12, buku solo saya kemudian lahir. Di mulai dari mimpi, akhirnya buku pertama saya bisa terbit dan keliling Indonesia karena banyak peserta yang memesan buku itu untuk dijadikan panduan membuat buku hasil resume.Buku solo pertama saya yang berjudul MENGUKIR MIMPI JADI PENULIS HEBAT terbit  bulan Agustus 2020.



Saat lulus dari KBMN 12, saya mengabdikan diri menjadi Tim Solid Omjay dan bertugas menjadi moderator di kelas belajar menulis dan kelas belajar bicara. Sayang kalau kisah ini terlewat begitu saja maka terbitlah buku solo kedua saya yang berjudul KUNCI SUKSES MENJADI MODERTOR ONLINE



Belajar dari Omjay, beliau selalu menulis setiap hari dan mengabadikan menjadi buku. Saya mengikuti jejak beliau untuk membukukan stiap pengalaman supaya menjadi jejak literasi kita Untuk mengasah keterampilan menulis, saya mengikuti tantangan menulis satu minggu bersama Prof. Eko Indrajit, alhamdulillah naskah saya lolos seleksi penerbit mayor dan bisa mejeng di Gramedia.




Ada juga bentuk e-booksnya. https://play.google.com/store/books/details/AAM_NURHASANAH_S_Pd_Parenting_4_0?id=5kkzEAAAQBAJ 

Ini e-booknya bisa klik contoh gratis untuk dibaca Sebagian https://play.google.com/store/books/details/AAM_NURHASANAH_S_Pd_Parenting_4_0?id=5kkzEAAAQBAJ 

Dulu saya bermimpi jika suatu saat buku saya terpajang di Rak Gramedia, namun sekarang hal itu bisa terwujud. Allah memudahkan jalan untuk menggapai setiap impian

Tidak hanya itu, saya juga  mengikuti Lomba Blog. Awalnya saya masuk 10 besar saja dan mendapatkan hadiah webcam. Namun saya tidak patah semangat, saya kembali mengikuti lomba blog PGRI dan akhirnya meraih juara 1 pada bulan Maret 2021. Buku solo yang ketiga akhirnya lahir dan berkisah tentang bagaimana penulis konsisten menulis selama 28 hari tanpa jeda yang di isinya berharap bisa memberikan inspirasi melalui tulisan.

 

Usai mengikuti kelas BM 12, saya mendapat tawaran dari Bunda Kanjeng menjadi kurator atau penanggung jawab buku. Hampir setiap angkatan KBMN, melahirkan buku antologi bersama Bu Kanjeng dimana saya menjadi kuratornya.



Setelah menjadi kurator, saya menerima satu naskah novel dari Juminah, seorang murid yang bekerja sebagai TKI di Arab Saudi yang merelakan masa remajanya menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Novel ini dikirim melalui WA dan butuh proses membukukan naskah hingga menjadi novel kisah cinta yang menarik yang siap dibaca. Ini buku hasil karya murid saya.Muridnya lebih dulu membuat novel daripada gurunya. Saya sampai terharu membaca kisah novel cinta Juminah. Begitu besar perjuangannya selama 5 tahun di negeri orang hingga menemukan cinta sejatinya.


Setelah mengedit novel Juminah dengan tebal 300 halaman, saya kembali diberi tantangan menjadi editor oleh Bunda Kanjeng. Hingga akhirnya saya bisa membantu para alumni KBMN untuk melahirkan buku pertamanya. Ada Pak Dail, Bu Raliyanti, Ustazah Mutmainah, Ustazah Ovi, juga yang lainnya.

Awal 2022, lahirlah buku solo ke-4 saya yang berjudul RAJIN MENULIS BERBUAH MANIS.



Demikianlah materi yang disampaikan oleh Ibu Aam Nurhasanah. Seperti yang telah saya sampaikan diawal, bahwa kualitas ilmu seseorang dapat terasa dari awal kita berkenalan, dan ternyata benar…, setelah banyak materi, kisah, motivasi yang disampaikan oleh Ibu Aam Nurhasanah pada kesempatannya dalam memberikan materi kepada peserta Kelas Belajar Menulis Nasional Gelombang 28, bahwa Ibu Nurhasanah memang memiliki ilmu pengetahuan yang dapat kita simak untuk dijadikan sebagai arahan serta memotivasi kita untuk lebih mengerti terhadap Visi & Misi diri kita sendiri dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Menjelang akhir pemberian materi, Ibu Aam juga memberikan link channel Youtube-nya sebagai motivasi tambahan kepada kita semua. Berikut link Channel Youtube milik Ibu Aam Nurhasanah.

https://youtube.com/shorts/-Cnq7okmwOI?feature=share

Tidak hanya link Channel Youtube yang diberikan, tetapi Ibu Aam juga sedikit berbagi kisah melalui channel media sosiak TikTok, sebagai berikut https://vt.tiktok.com/ZS8kA7UCk/

 

Ada banyak kisah yang telah disampaikan oleh Ibu Aam, dan secara pribadi benar-benar memebrikan sebuah inspirasi yang terlupa oleh saya, sehingga walaupun kegiatan pertemuannya sudah beberapa hari yang lalu, namun masih melekat aura inspirasi yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut (sekali lagi saya sampaikan, walaupun melalui media chat di Grup WhatsApp).

Terima kasih kepada Ibu Aam Nurhasanah, atas kisah-kisah yang disampaikan dan contoh-contoh serta bukti-bukti yang telah ditampilkan. Kisah ibu yang menceritakan tentang seorang murid yang bekerja sebagai TKI, yang menceritakan kisah asmaranya itu-lah yang benar-benar memberikan dampak motivasi & inspirasi terbesar saya, yang hingga saat saya menulis artikel ini, masih terbayang & terus menggoda saya agar segera untuk mulai membuat cerita hingga berbentuk sebuah buku (titip salam kenal untuk Juminah). Semoga saya juga bisa seperti Juminah.


Artikel ini dibuat sebagai salah satu persyaratan dalam mengikuti kegiatan Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 2.

Judul = “Break Your Limit”

Resume 3

Tanggal : 13 januari 2023

Narasumber : Aam Nurhasanah, S.Pd

Materi : Gali Potensi Ukir Prestasi

Moderator : Ibu Arofiah Afifi, S.Pd

Kunjungi juga : https://www.kompasiana.com/luthfiiskandar1065 








Just Do It...!!


Kata “Passion” tentunya tidak asing terdengar ditelinga kita bukan? Bila kita sedikit membuka memori, bahwa kata Passion ini sudah pernah kita dengar sejak dibangku sekolah tingkat pertama (Sekolah Menengah Pertama = SMP). Bahkan tanpa kita sadari, kata Passion sempat terucap dari mulut kita sendiri saat memberikan sebuah pernyataan bijak kepada anak kita (baik kepada anak kandung sendiri maupun kepada anak didik disekolah).

Namun, apakah anda mengetahui dan memahami arti serta makna dari kata Passion tersebut?

Menurut Professor J Vellerand, melalui bukunya “The Psychology of Passion ~ A Dualistic Model [2013]”; Passion terbagi menjadi dua tipe, yaitu Passion Obsesi dan Passion Harmoni. Kedua passion tersebut memiliki efek yang berbeda yang dapat berdampak pada seorang individu yang bersangkutan.

Mengutip dari laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ , berikut penjelasan terhadap pengertian Passion Obsesi & Passion Harmoni berdasarkan teori yang disampaikann oleh Professor J.Vellerand.

Passion Harmoni

 
Tipe Passion Harmoni merupakan Passion yang Postif. Hal ini dikarenakan seorang individu dapat melakukan suatu hal karena senang, cinta, dan seirama dengan hal-hal yang disukai akan hal tersebut. Contohnya apabila Anda menjadikan hobi anda sebagai pekerjaan atau sumber pendapatan.

Passion harmoni membuat anda lebih bahagia, karena dalam aktifitas sehari-hari tidak ada konflik antara aktifitas dengan nilai kepribadian yang dianut. Sehingga langkah yang akan anda tempuh menjadi terorganisir serta memiliki tujuan yang jelas.

Passion Obsesi

Passion Obsesi adalah faktor eksternal yang menjadi landasan dan dorongan dari aktivitas Anda, contohnya mendapatkan gaji untuk dapat menafkahi keluarga.

Berbeda dengan passion harmoni yang akan membuat anda bahagia, Passion Obsesi merupakan passion yang membuat anda terpaksa untuk menjalani suatu aktifitas, walaupun tidak sesuai dengan nilai kepribadian anda. Sehingga efeknya akan membuat anda seperti robot atau kaku karena anda tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol hasil akhir yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anda.(sumber : https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ )

Lalu, pertanyaan adalah bagaimana cara menemukan passion kita sendiri? Dan masuk kedalam kategori “passion” apakah kita nanti?

Secara umum, pengertian dari passion itu adalah,suatu hal yang dikerjakan (secara terus menerus) yang dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan (tidak merasa bosan dan tidak memikirkan keuntungan ataupun kerugian dikemudian hari) serta suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar seseorang.

Mengutip dari dari laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ , sang penulis artikel (Nandy), memberikan beberapa tips-tips dalam menemukan passion yang ada pada diri anda sendiri. Berikut tips-tips yang diberikan oleh Nandy dalam laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ :

      v  Pertama,  Pikirkanlah hal atau aktivitas yang membuat anda merasa Bahagia.

v  Kedua, Pikirkanlah aktivitas apa yang anda sukai serta aktivitas seperti apa yang sering dan senang anda bicarakan

v  Ketiga, Anda dapat menuliskan sifat yang menjadi kelebihan serta kekuatan anda, sehingga anda dapat mengetahui lebih jelas kelebihan-kelebihan anda.

v  Keempat, Renungi atau tanyakan kepada diri Anda sendiri tentang cita-cita maupun impian pada masa kecil.

v  Kelima, Anda perlu memikirkan hal-hal yang akan mempengaruhi keputusan yang anda ambil

v  Keenam, tips terakhir coba bayangkanlah pekerjaan yang Anda jalani saat ini serta tanyakan kepada diri anda sendiri apakah Anda bersemangat Ketika melakukan pekerjaan tersebut? Kemudian apakah pekerjaan tersebut membuat anda Bahagia?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ 

"Menjadikan Menulis Sebagai Passion". Itulah Tema materi yang diberikan oleh Ibu Ratu Antologi, seorang Penulis, Motivator dan Founder PMA Literasi Istikamah, dalam kegiatan pertemuan melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 pada tanggal 11 Januari 2023, yaitu Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

Pada kesempatan tersebut, Ibu Sri Sugiastuti memberikan sudut pandangnya terhadap kegiatan menulis dapat merupakan sebuah passion yang hampir dimiliki oleh setiap orang.

 Hal ini diungkapkan oleh Ibu Sri, saat menjawab beberapa pertanyaan yang hadir kepada Ibu Sri Ketika sesi tanya-jawab dimulai, dimana salah satu pertanyaan yang hadir kepada beliau adalah .. “Mengapa Kita Menulis?”

Ibu Sri menjelaskan, “Kalau saya pribadi  yang belajar menulisnya saat senja tentu saja ini Menulis bagian dari healing. Sudah usia 50 tahun bagaimana supaya bisa punya kacamata 5 Dimensi saat membaca  menulis dan berbicara.”

Pertanyaan berikutnya yang hadir untuk Ibu Sri, dari salah satu peserta Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Angkatan 28, adalah “Apa hubungannya antara Menulis dengan Healing dan apa contohnya?”

Ibu Sri menjelaskan, bahwa, Sebagai manusia tentu tak pernah lepas dari masalah.  Dari mulai masalah upil  yang sipil, sampai masalah yang besar dan menggurita. Nah disini kita perlu healing.Menulis bisa jadi satu solusi. Yang paling sederhana  kita langsung mohon dan menuliskan masalah yang ada. Kita konsultasi pada Allah lewat tulisan. Setelah itu dibaca. Mau dimusnahkan atau mau diabadikan terserah saja. Dada menjadi lapang. Pikiran tenang dan masalah pun hilang.”

Melalui penjelasan Ibu Sri diatas terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peserta dalam sesi tanya jawab tersebut, maka sedikit saya coba artikan dari sudut pandang pribadi saya bahwa, untuk dapat memulai menjadi seorang penulis itu sangat mudah, karena dengan menceritakan segala peristiwa yang terjadi sehari-hari, mulai dari peristiwa rutin hingga peristiwa yang mungkin masuk kedalam kategori keluhan pribadi, dapat dijadikan sebuah inspirasi dalam menciptakan sebuah karya tulis, yang selanjutnya, hasil akhir dari tulisan kita ingin diabadikan ataupun dimusnahkan, bahkan tidak perduli orang suka ataupun tidak dengan tulisan kita, setidaknya satu permasalahan dapat terselesaikan.

Pertanyaan menarik lagi, muncul dari salah seorang peserta (dari Bapak Teguh ~ Bekasi), yang bertanya kepada Ibu Sri, yaitu “Apakah menulis di era digital masih relevan..ditengah banjirnya youtube, tiktok dan media media yang bisa mengirim pesan  yg lebih visual ?  Sebagai gambar  sekarang orang suka nonton video dibanding membaca, bagaimana menjawab tantangan ini?”

Ibu sri mencoba menjawab pertanyaan dari Bapak Teguh ~ Bekasi, sebagai berikut,

Terima kasih pertanyaannya Pak Teguh. Jangan risau dengan adanya digital, tik tok juga youtube. Percayalah kegiatan Literasi bisa dalam bentuk buku atau ebook.

Untuk menjawab tantangan ini sering adakan lomba dan menghidupkan Literasi di segala lini. Supaya laris manis kita harus memiliki teknik marketing yang jitu.”

Benar apa yang disampaikan oleh Ibu Sri, bahwa tidak perlu risau dengan hadir & berkembangnya media social di era digitalisasi ini. Namun bila boleh saya sedikit menambahkan respon jawaban dari Ibu Sri terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Bapak Teguh ~ Bekasi, bahwa justru dengan berkembangnya media social seperti Instagram, Youtube, Tik Tok, Twetter, dan sebagainya, dapat kita jadikan sebagai media yang memudahkan kita untuk promosi terhadap tulisan-tulisan yang sudah kita buat. Manfaat media-media tersebut untuk lebih memperluas karya tulis kita.

Contoh yang bisa kita lakukan untuk men-sinergik’an, seperti halnya kita mencoba membuat karya tulis berupa Tutorial dari sebuah aplikasi komputerisasi, yang mungkin dulu hanya dapat kita miliki dengan membeli sebuah buku, namun kini melalui media digitalisasi dapat kita temukan dan mudah untuk membaca-nya.

Pertanyaan menarik lainnya diutarakan oleh Ibu Rinrin Siti Maemunah (Bandung Barat), yang mempertanyakan tentang, “ketika saya punya topik untuk ditulis,susah mulai kata kata awalnya, bagaimana cara memulai menuangkan ide?”

Lalu Ibu Sri menjawab, “Untuk memulai satu tulisan kalau yang non fiksi bisa berkiblat pada buku  ajar atau buku karya ilmiah. Sedangkan untuk fiksi. Kalimat pertama  atau istilahnya LEAD  dibuat semenarik mungkin. Bisa dengan kutipan, dialog  atau pertanyaan yang membuat  pembaca penasaran.”

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus menyerang Ibu Sri pada saat pertemuan tersebut, namun tentunya saya tidak bisa menuliskan satu-per-satu semua pertanyaan dan jawaban yang disampaikan oleh Ibu Sri.

“Kita tiada lain adalah apa yang kita sendiri pikirkan, rasakan, dan lakukan”

Akhir kata, untuk menutup tulisan artikel saya ini terhadap materi yang disampaikan oleh Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28, ijinkan saya mencoba merangkum melalui sebuah kalimat, “Kita tiada lain adalah apa yang kita sendiri pikirkan, rasakan, dan lakukan”.


Selasa, 10 Januari 2023

Pergi Untuk Kembali

Judul = “Pergi Untuk Kembali”

Resume 1

Tanggal : 9 januari 2023

Narasumber : Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Materi : Menulis Setiap Hari

Moderator : Dail Ma'ruf , M.Pd

 



Mungkin memang benar apa yang telah disampaikan oleh pepatah, bahwa “Penyesalan Tak Pernah Menempatkan Diri Di Muka”. Begitupun yang saya alami saat ini, bahwa beberapa hari sebelumnya, diri ini kembali diundang untuk bergabung dalam grup Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang ke-28, dimana pada hari ini (Senin, 9 Januari 2023) dimulai kembali Pertemuan Pertama dari Kelas Belajar Menulis Nasional ini, dan Pemateri pertama tetap diberikan oleh Bapak Inspirator Menulis Nasional yaitu Bapak Wijaya Kusuma, S.Pd.,M.Pd.

Pada pertemuan kali ini, Bapak Wijaya Kusuma, yang selanjutnya lebih akrab dipanggil dengan Om Jay, menampilkan bukti (gambar diatas) bahwa kegiatan menulis dapat memberikan keuntungan yang sangat mempesona untuk diri kita sendiri, yaitu mendapat apresiasi rupiah dari Kompasiana.

Hal ini yang menjadikan sebagai salah satu pembuktian bahwa “Penyesalan Tak Pernah Menempatkan Diri Di Muka”. Andai pada undangan pertama saya mengikuti kegiatan Kelas Belajar Menulis Nasional ini Gelombang 25 lalu, tentunya saya mungkin juga mendapatkan apresiasi rupiah secara rutin bulanan seperti Om Jay, yang selanjutnya “apresiasi rupiah” tersebut dapat saya manfaatkan untuk aktifitas kehidupan sehari-hari saya.

Namun sejujurnya, alasan dasar saya ingin mencoba mengikuti kembali kegiatan belajar menulis ini adalah, bahwa memang sudah dari lama waktu, saya memiliki keinginan menjadi seorang penulis. Dan semenjak saya menjadi seorang guru pada tahun 2010 disalah satu Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kramat Raya, keinginan tersebut semakin kuat dan besar dikarenakan beberapa teori/materi yang tercantum pada buku-buku pembelajaran, saya menilai sedikit kurang sesuai berdasarkan tingkatannya. Materi yang saya sampaikan pada waktu itu adalah materi tentang Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK).

Alhamdulillah…, kesempatan untuk belajar kembali menjadi seorang penulis, terbuka kembali ketikan beberapa hari sebelumnya saya mendapat undangan untuk bergabung dalam Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) untuk gelombang 28. Untuk kesempatan kali ini, saya menilai bahwa #semesta memberikan sebuah sinyal (pertanda) pada saya bahwa untuk menjawab salah satu pertanyaan dari beberapa permasalahan yang sedang saya alami saat ini adalah dengan mencari kesibukan menjadi seorang penulis .

Seperti biasa, pertemuan pertama dari Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) ini diawali dengan narasumber bapak Dr.Wijaya Kusumah, M.Pd. dengan tema yang diusung adalah “Menulis Setiap Hari”. Pertemuan ini dipandu oleh moderator terkenal di kalangan Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) yaitu Bapak Dail Ma’ruf, M.Pd.

 Awal materi bapak Dr.Wijaya Kusumah, M.Pd (yang selanjutnya lebih akrab dipanggil dengan Om Jay), adalah melakukan perkenalan terlebih dahulu, dimana Om Jay memberikan keterangan biodatanya melalui sebuah tautan (link), dimana pada tautan tersebut lengkap berisi tentang biodata dari Om Jay (Biodata Om Jay = https://wijayalabs.com/about ). Tautan-tautan yang dimiliki oleh Om Jay tidak hanya itu, terdapat beberapa tautan lainnya yang saling berkaitan, bila ingin mengenal lebih dalam tentang Om Jay. Berikut beberapa tautan yang Om Jay berikan kepada kami saat menyampaikan materi pertamanya.

https://wijayalabs.wordpress.com/

https://wijayalabs.blogspot.com/

https://youtube.com/wijayalabs

“Menulislah Setiap Hari”, itulah tema materi yang disampaikan oleh Om Jay pada pertemuan pertamanya dengan kita melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis (KBMN) Gelombang 28.

Ada banyak pembelajaran yang disampaikan oleh Om Jay terhadap materi tersebut, dimana secara garis besarnya Om Jay mengajak dan memotivasi kita untuk aktif menulis, karena kita sebagai seorang guru, yang dituntut untuk dapat memberikan contoh terbaiknya agar dapat ditiru oleh siswa-siswinya, maka dijaman sekarang seorang guru juga dituntut untuk dapat menciptakan sebuah karya sendiri.

Om Jay berkisah bahwa sewaktu tahun 2007, Omjay bertemu dengan seorang blogger terkenal dan beliau adalah seorang kepala sekolah SMK, yang memperkenalkan pertama kali kepada Om Jay tentang sebuah teknologi berbasis internet dengan nama BLOG, dan kisah pertama yang dituliskan oleh Om Jay pada Blog saat itu adalah menceritakan tentang Buah Kiwi.

Tahun 2008 sekolah Omjay kebakaran dan mulailah Omjay manfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Tulisan siswa di blognya menjelma menjadi buku yuk kita ngeblog dan mendapat juara pertama lomba buku pengayaan Depdikbud dengan hadiah Rp. 20.000.000. Omjay tak pernah mengira berkenalan dengan bapak Dedi dwitagama di Pascasarjana membawa berkah. Omjay menjadi tahu apa itu blog dan mendapat juara pertama lomba blog dari pusat bahasa tahun 2009.

Berikut salah satu contoh karya dari Om Jay sebuah karya tulis dalam bentuk sebuah buku untuk kategori buku pembelajaran bidang Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK), dengan judul bukunya “TIK:Menulis BLOG Untuk Pendidikan”.

Setelah aktif menulis pada media Blog di Internet, barulah Om Jay membuat Blog Berbayar dengan alamat tautannya adalah https://wijayalabs.com dengan tagline “Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Apa Yang Terjadi”.

 


Selanjutnya Om Jay berkisah, bahwa dari hasil ketekunannya dalam menulis setiap hari di BLOG dan menciptakan karya keduanya berupa buku dengan judul ‘Blogger Ternama – Jadilah Blogger Terkenal di Era Digital Dengan Keterampilan Menulis”, maka tanpa diduga Om Jay diundang ke Istana Negara oleh Bapak Presiden Ir. Joko Widodo, dan mendapat apresiasi dari Istana Negara berupa uang sebesar Rp.20juta dan diberikan langsung oleh Bapak Presiden.

“Jadi…, menulis setiap hari bukanlah ilmu yang susah untuk dipraktekkan. Kalau kita puny blog maka menulis setiap hari terasa indah. Tulisan-tulisan kita di blog menjelma jadi buku bahkan dapat penghasilan tambahan dari menulis”, ujar Om Jay.

 Salah satu kebahagian menjadi seorang guru dan juga dapat disebut sebagai sebuah kebanggaan dari guru yang bersangkutan adalah, mendapatkan ucapan terima kasih atas bimbingannya dari guru tersebut serta pengakuan dari muridnya yang telah berhasil meraih prestasi dikehidupan bermasyarakat.

Hal ini juga didapatkan oleh Om Jay, yang mendapatkan sebuah ucapan Terima Kasih dari salah satu peserta yang mengikuti arahan dan motivasi dari  Om Jay untuk terus aktif menulis. Berikut cuplikan ucapan terima kasih dan pengakuan yang disampaikan oleh salah satu peserta yang mengikuti Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN).

Salam semangat dari ujung Lampung 🙏🏻

Saya ucapkan terima kasih kepada Omjay. Lantaran motivasi dan bimbingan beliau pada KBMN 17, saya berhasil menerbitkan sebuah buku untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Suatu kebahagiaan dan kebanggaan yang tak terkira. Sejak itu, (2 th lalu) saya selalu menulis dan menulis sesuai dengan hobi saya. Sehingga dalam 1 th saya berhasil menerbitkan 6 buku.

Terakhir, lantaran hobi saya menulis pantun, Best Practice saya tentang PANTUN membawa saya menjadi salah satu GURU INSPIRATIF INDONESIA TAHUN 2022.

Dan tanpa saya duga, saya pun berjumpa beliau pada acara tersebut.

Sekali lagi, trimksh Omjay atas inspirasi dan motivasinya untuk saya.🙏🏻🙏🏻😊

 

Itulah mengapa Om Jay selalu mengajak guru untuk menulis dan menerbitkan buku, sebab hasilnya sudah terlihat seperti Ibu Mujiatun dari Lamoung dan Ibu Ritawati dari Bali.

Menjelang akhir pembahasan materi, Om Jay memberikan sedikit tips kepada kami semua dalam melakukan sebuah awal dari menulis di BLOG, yaitu “awali sebuah tulisan dengan menyapa pembaca”.

Bagi saya, tips yang diberikan oleh Om Jay tersebut adalah benar adanya, bahwa dalam melakukan sebuah tulisan di media Blog yang berbasis internet (jaringan luas), memang sangat disarankan untuk tetap menyapa siapapun yang membaca tulisan kita nanti, karena sebagai salah satu bentuk dari kesopanan dan keramahan kita terhadap sesame manusia, kita juga tidak akan pernah tau hasil akhir dari tulisan kita tersebut.

Sebagai kalimat terakhir yang disampaikan oleh Om Jay, saat mengakhiri pertemuan, maka Om Jay memberikan beberapa motivasi kepada kita semua, yang salah satunya saya anggap sebagai Quote terbaik dari Om Jay, yaitu “Menulis Setiap Hari Akan Berbuah Prestasi Ketika Anda Menulis Dengan Hati”.

 

Setelah Om Jay memberikan materi pertamanya, kegiatan selanjutnya pada pertemuan tersebut adalah, dibukanya sesi tanya jawab, dan sangat luar biasa…, setiap pertanyaan yang diajukan kepada Om Jay, dijawab semua dengan baik.

Pertemuan pertama telah selesai dilaksanakan, dan kini saat saya untuk mencoba membuktikan apa yang telah disampaikan oleh Om Jay. 

Pertemuan saya dengan grup ini digelombang 25, saya telah pergi meninggalkan kesempatan yang luar biasa. Dan kini….., saya telah kembali untuk mencoba sekali lagi kesempatan yang diberikan.

Semoga, untuk kesempatan kali ini dalam mengikuti Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) ~ Gelombang 28, saya dapat mengikutinya dengan konsisten dan baik.

Dan kepada para pembaca…, mohon doa restu dan dukungannya kepada saya.

Terima kasih.

Ttd.

LUTHFI ISKANDAR, ST