Minggu, 19 Februari 2023

Go-BLOG

 

Sejujurnya, tidak asing bagiku dengan kata BLOG, namun setelah menyimak materi yang disampaikan oleh Pak Da’il Ma’ruf dengan baik pada Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28, dengan tema materi “BLOG Sebagai Media Pembelajaran” pada hari Rabu bertepatan dengan tanggal 10 Januari 2023 lalu, pada akhirnya saya menyadari bahwa ternyata saya sudah tertinggal jauh dalam hal pemanfaatan media social dengan nama BLOGSPOT ini.

Artikel ini merupakan resume dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 yang dilaksanakan pada hari Rabu – 10 Januari 2023 silam. Saya akui keterlambatan saya terhadap penulisan resume ini. Namun setelah me-review melalui grup WAG dan beberapa referensi dari sesama peserta KBMN Gel.28; maka saya bisa mengingat beberapa materi yang disampaikan ole Pak Da’il.

 

Sebelum memulai materi Ustadz Dail menceritakan kilas balik bagaimana beliau bisa bergabung di grub KBMN 20  1,5 tahun yang lalu dan belum mempunyai Blog, tapi bermodal semangat ingin ikut KBMN selama 2,5 bulan atau 30 materi beliau langsung japri Om Jay, pendiri KBMN, minta arahan bagaimana cara buat Blog.

“Jadi teringat awal saya ikut grub inipun, saya tidak mempunyai blog dan belum paham bagaimana membuat blog, ketika mengisi biodata pun saya isi bahwa saya tidak memiliki blog padahal syarat ikut kelas ini kita harus mempunyai blog sendiri. Saya hampir berfikir untuk tidak melanjutkannya karena ada rasa minder dan hampir putus asa, namun dengan tekad dan niat ingin belajar, dibarengi keinginan untuk bisa berbagi---saya bulatkan tekat untuk bertanya kepada teman dan belajar bersama membuat blog sehingga akhirnya semangat dan rasa percaya diri itu akhirnya muncul kembali”., ucap Pak Da’il


Apa itu blog?

Kata “blog” berasal dari kata weblog yang diperkenalkan pertama kali pada 1998 oleh Jhon Barger yang berarti website yang bersifat pribadi dan sering diperbarui dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, blog adalah website yang bersifat personal, yang memuat opini personal dan hal-hal lain untuk mengaktualisasikan diri dan mengabarkannya pada komunitas global.

 

5 Definisi Blog Menurut Para Ahli

  1. Wikipedia, Pengertian Blog merupakan singkatan dari web log yaitu sebuah situs yang memuat berbagai macam informasi yang dipublikasikan di dalam jaringan World Wide Web, yakni sebuah sistem dokumen hypertext yang saling terkait satu sama lainnya yang dapat diakses dari jaringan internet.
  2. Roger Yim, seorang kolumnis San Francisco Gate pada artikelnya di Februari 2001, menuliskan bahwa sebuah blog adalah persilangan antara diary seseorang dan daftar link di internet. 
  3. Scott Rosenberg dalam kolomnya di majalah online Salon pada May 1999 menyimpulkan bahwa blog berada pada batasan website yang lebih bernyawa daripada sekedar kumpulan link tapi kurang introspektif dari sekedar sebuah diary yang disimpan di internet.
  4. Computer Glossary of Terms, sebuah blog pada dasarnya merupakan sebuah jurnal yang tersedia di internet. Aktivitas yang dilakukan pada blog disebut dengan aktivitas blogging, sedangkan orang yang melakukan aktivitas blogging disebut dengan seorang blogger.
  5. Anonim, Blog merupakan sebuah tipe dari website yang biasanya memuat konten berupa kronologis yang diurutkan dari kiriman terbaru di bagian halaman paling atas ke kiriman paling lama di bagian halaman paling bawah.

Pemanfaatan blog dapat juga mengantarkan sesorang memiliki penghasilan cukup tinggi hanya sebagai seorang blogger. berikut 5 blogger terkenal di Indonesia

1.Herman Yudiono
2. Raditya Dika
3. Sugeng Riyadi
4. Carolina Ratri
5. Dani Rachmat

Adapun untuk manfaat penggunaan blog sebagai media pembelajaran, seperti yang disampaikan oleh Pak Dail Ma'ruf antara lain:

1.    Blog sebagai rumah belajar dan berbagi guru

     Pada blog guru bisa menyalurkan kreatifitas mereka dalam memberikan materi   pelajaran, seperti dengan membuat puisi, dalam bentuk cerpen ataupun dalam bentuk video.

2.   Blog dapat meringankan tugas dan beban guru dalam mengajarDengan adanya blog,seorang guru tidak lagi terus menerus menggunakan metode ceramah di depan kelastetapi bisa sebagai motivator, fasilitator bagi siswanya. Dapat pula meringankan tugas seperti membuat kuis dengan soal objektif atau jawabanpendek, sehingga guru bisa mendapatkan hasilnya saja tanpa perlu memeriksa lagi jawaban siswa tersebut.

3.   Blog dapat meningkatkan minat belajar para siswa Transformatika,Volume 12 , Nomer 1, Maret 2016 ISSN 0854-8412 125 menyatakan “ dengan blog, seorang guru dapat memposting suatu permasalahan atau materi pelajaran yang disusun dalam suatu bahasa yang formal tetapi lebih santai. Kemudian para siswa bisa blogwalking ke blog tersebut dan kegiatan belajar mengajar pun bisa menjadi lebih menyenangkan. 

4.   Blog dapat diakses oleh siapapun di belahan duniaDengan blog, guru bisa berbagi materi pelajaran tidak hanya untuk siswanya, tetapi juga setiap orang orang yang membutuhkan pemikirannya.

5.   Blog dapat menjadi media silaturahimBlog dapat dijadikan sebagai media sosial karena dengan blog antara penulis dengan pembaca bisa saling berinteraksi satu sama lain.

 Secara garis besar blog ini dikategorikan menjadi beberapa jenis yaitu : 

1.            Blog Pendidikan

Blog ini ditulis oleh pengajar, guru atau dosen. Fungsinya untuk memberikan materi pelajaran pada siswanya. Dengan adanya materi ini siswa bisa belajar dari mana saja asalkan mereka terhubung dengan internet.

2.           Blog Sastra

Biasa juga disebut dengan literary blog (litblog). Pada blog ini hanya membahas sesuatu yang berkaitan dengan dunia sastra


3.           Blog Pribadi

Blog yang dibuat seseorang yang biasanya untuk menulis tentang catatan hariannya. Bisa tentang keluhan, puisi, ungkapan perasaan, atau sekedar posting photo mungkin photo keluarga, perjalanan dan lain sebagainya.


4.            Blog Bertopik

Blog ini blog yang mengkhususkan tentang sesuatu misalnya khusus kuliner, atau wisata, atau blog pernak-pernik


5.           Blog Kesehatan 

Blog yang khusus membahas tentang kesehatan, obat-obatan. Obat dokter (obat kimia) serta obat herbal (obat dari alam) misal yang dibuat ahli Medis, Hallo dok, dan lain sebagainya.


6.           Blog politik 

Blog ini banyak jelang 2024 dan tujuannya ya mengiklankan dirinya atau jagoannya ke Publik supaya dapat dukungan atau suara


7.           Blog Perjalanan

Blog yang khusus membahas tentang perjalanan misalnya seseorang tersebut melakukan perjalanan liburan, atau kopdar dengan teman-teman.


8.           Blog Riset

Ini blog peneliti, biasanya dimiliki pihak kampus atau lembaga penelitian lainnya. Hasil dari penelitian mereka di tulis di blog. Tujuannya supaya semua orang tau, atau untuk minta pendapat atau masukan dari masyarakat umum atau orang pakar tentang penelitian yang sedang mereka lakukan.


9.           Blog Hukum

Blog ini dibuat para ahli hukum, Pengacara jaksa dan Hakim atau Polisi. ditujukan untuk sosialisasi aturan hukum atau advokasi


10.        Blog Media artinya Blog berita. 

Memberitakan apa saja yang diliput wartawannya.


11.        Blog Agama

Blog ini berisi masalah religi (agama) dan solusi dari penulis atau tokoh agama, bisa juga buka rubrik tanya jawab


12.        Blog Bisnis

Blog yang digunakan untuk berbisnis. Apapun bisnisnya biasanya di upload secara detail ke blognya, sehingga apabila ada orang yang bertanya tentang produk, mereka hanya tinggal memberikan link saja sehingga tidak perlu lagi panjang lebar untuk menjelaskan.

 

Sebagai ungkapan terima kasih saya kepada Pak Dail Ma'ruf yang telah membangkitkan semangat saya dalam meningkatkan penggunaan blog sebagai media pembelajaran, maka saya akan berusaha mengisi blog saya ini dengan mencoba sedikit-demi sedikit untuk menempatkan hal-hal yang terkait dengan kegiatan belajar, khususnya di mulai dari materi, sumber ajar, media dan mungkin informasi nilai dan lainnya yang relevan dengan kegiatan belajar mengajar.


Judul = “Go-BLOG

Resume 5

Tanggal : 18 Januari 2023

Narasumber : Da'il Ma'ruf, M.Pd

Materi : BLOG Sebagai Media Pembelajaran

Moderator : Purbasianita KS, S.Pd

Skripsi Ternyata Bisa Dijual...!!

 

Disadari ataupun tidak, saat kita menjalani dunia Pendidikan pada tingkat universitas, diakhir perjalanan kita diminta untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah terhadap suatu study kasus, yang selanjutnya sering disebut dengan Skripsi.

 

Malam ini, pada Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) gelombang 28, mengusung tema “MENULIS BUKU DARI KARYA ILMIAH”. Tema yang sangat serius, namun menarik. Dikatakan serius namun menarik, dikarenakan ternyata hasil karya tulis (skripsi) kita saat akhir kuliah, ternyata dapat dijadikan sebuah buku bacaan, yang memiliki nilai jual.


Pertemuan ke-4 yang bertepatan pada hari Senin, 16 Januari 2023 lalu, kita belajar menerbitkan buku dari Karya Tulis Ilmiah pribadi kita. Pertemuan yang dipandu oleh Ibu Nur Dwi Yanti, S.Pd (biasa dipanggil Ibu NDY), merupakan alumnus Kelas KBMN Gelombang 24, serta mendapat kepercayaan sebagai bagian dari Tim Solid dibawah asuhan Om Jay. Adapun yang bertindak sebagai narasumber hebat adalah Pak Eko Daryonom S.Pd atau biasa disapa dengan Mr.Yons, yang memiliki motto hidup “Guru yang bersahaja yang tergerak, menggerakan, dan membawa dampak bagi dirinya serta lingkungan”. Selain sebagai pengajar, beliau juga berprofesi sebagai penulis, serta memiliki banyak prestasi yang luar biasa. Karya-karya beliau yang terbit yang solo maupun antologi, yaitu; Kesejarahan ada 14 buku, Traveling ada 2 buku, Budaya Lokal ada 10 buku, dan penelitian ilmiah ada 2 karya. Maka pada kesempatan di KBMN ini beliau menggerakkan ilmunya dengan judul “Menulis Buku dari Karya Ilmiah” (untuk mengenal lebih dalam tentang Mr.Yons, dapat disimak melalui link berikut:  https://maseko1275.blogspot.com/2021/11/profil.html)

[sumber gambar: materi KBMN Gelombang 28]

Diawal materi, Mr.Yons teringat sebuah kata mutiara dari salah satu tokoh motivational speaker terkenal dari Amerika John Maxwell , menggambarkan passion sebagai “the fuel for will’ atau bahan bakar untuk kemauan. Dalam artian passion mengubah “keharusan” menjadi “kemauan”. Jadi, ketika kita sangat menginginkan sesuatu, kita akan menemukan tekad untuk melakukannya dan tidak akan berhenti sampai benar-benar mencapainya.

Inilah komitmen dan konsisten dalam menulis, sama halnya saat kita melakukan suatu analisis, menguji suatu tindak penelitian sehingga terbentuklah laporan dituangkan dalam karya tulis yang kita kenal karya ilmiah. Namun sayangnya terkadang karya ilmiah tersebut hanya tersimpan di loker lemari kita, di perpustakaan, dan terkadang terlupakan.

Malam ini kita akan belajar bersama mengubah karya ilmiah kita menjadi sebuah buku. Sehingga, pengalaman kita dalam melakukan penelitian dapat dikenal bahkan dapat bermanfaat bagi orang lain., ucap Mr.Yons.

Selanjutnya, beliau menjelaskan, sesuai Peraturan Kepala LIPI Nomor 2, Tahun 2014 tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah.

Adapun jenis-jenis KTI yaitu KTI buku dan KTI non Buku

KTI Buku antara lain: Buku Bahan Ajar : diktat, modul, buku ajar, buku referensi
Buku Pengayaan : monografi, buku teks, buku pegangan, buku panduan
Buku kompilasi : bunga rampai, prosiding

Sedangkan KTI non Buku yaitu;

KTI bidang akademis untuk mendapatkan gelar : tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi
KTI hasil penelitian : PTK, PTS, best practice, makalah, artikel, jurnal
KTI berupa ulasan atau resensi

Selanjutnya Mr. Yons menjelaskan bagaimana cara mengkonversi KTI menjadi Buku adalah merubah judul. Seperti contoh; Selanjutnya memodifikasi BAB I “Pendahuluan” menjadi “Pembuka” dan beberapa Bab berikutnya menjadi beberapa subbab. Yang aslinya seperti dibawah ini

Struktur di atas umumnya dijadikan sebagai standar dalam menyusun bab-bab dalam KTI meskipun untuk KTI sejenis skripsi, tesis, desertasi, tugas akhir memiliki gaya yang berbeda di setiap kampus.Ketika dikonversi menjadi buku adalah sebagai berikut:

Perbedaan Laporan KTI dan KTI yang Dikonversi Menjadi Buku

Cara Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan

KTI Nonbuku yang berupa laporan hasil penelitian umumnya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku. Pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah.

1. Modifikasi Bab I

Bab I yang biasanya PENDAHULUAN boleh tetap dipertahankan judulnya dengan PENDAHULUAN, boleh PEMBUKA atau kata lain yang menggambarkan kemenarikan buku.

(Misalnya pada konversi PTK yang Pak Eko buat, beliau mengubah pendahuluan dengan FENOMENA PEMBELAJARAN TIK yang berisi mengenai fenomena sebagaimana isi poin latar belakang dalam naskah laporan aslinya ditambah dengan fenomena kekinian agar pentingnya isi buku dapat ditonjolkan sejak awal sehingga pembaca merasa tertarik untuk membaca keseluruhan isi buku).

Adapun secara struktur, tidak diperlukan lagi sub bab – sub bab seperti latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat dalam bentuk angka-angka. Fokusnya lebih mengeksplor latar belakang.

2. Modifikasi Bab II

Contoh isi bab II dari PTK yang disusun Pak Eko sebagai berikut:

Susunan bab dan sub bab beliau ubah dalam gaya penulisan buku sehingga menjadi beberapa bab, yaitu:

3. Modifikasi Bab III

Substansi bab 3 lebih fokus pada metode, teknik pengumpulan data (instrumen), dan analisis data. Jika berupa PTK berisi langkah-langkah tindakannya. Ada beberapa alternatif yang dapat diterapkan:

*Benar-benar menghilangkan bab III, (memasukkan bab 3 di bab 2, atau menarasikan bab 3 di awal bab pembahasan),

*Menghilangkan bab 3 (maksudnya keseluruhan isi bab 3 dihilangkan, sebab bunyi bab 3 sebenarnya bisa dicermati dari isi pembahasannya),

*Memasukkan bab 3 di bab 2 (maksudnya konsep pokok terpenting dari bab 3 digabung dalam bab 3).

Misal dari contoh tersebut, langkah-langkah tindakannya termasuk di Bab V dengan sub-Tahapan Penerapan Every One is Teacher Here Menggunakan Model Tindakan Kelas, Menarasikan bab 3 di awal bab pembahasan, maksudnya menyampaikan substansi isi bab 3 sebagai awal pembahasan.

Contohnya sebagai berikut:

Namun narasi tersebut butuh kehati-hatian. Jika untuk kepentingan kenaikan pangkat bagi guru ASN, maka narasi tersebut perlu dipertimbangkan untuk dicantumkan. (Butuh kemampuan ekstra di bagian Bab III ini dan memang butuh mentoring untuk editingnya).

4. Modifikasi Bab IV

Bagian ini, sejatinya merupakan bagian inti isi buku, sesuai dengan judul buku. Bab IV tidak lagi menggunakan judul Hasil Penelitian dan Pembahasan, namun disesuaikan dengan konteks buku. Judul buku menjadi pilihan sebagai judul Bab IV.

(Contoh Bab VI STRATEGI TIM QUIZ DALAM PEMBELAJARAN TIK).

Pada buku bab IV dapat dimasukkan tabel, grafik, foto-foto kegiatan maupun hasil penelitian yang menyatu dalam buku. Bab IV tidak lagi berisi data mentah seperti nilai dari setiap siswa berikut namanya. Foto pun hanya sekedar yang dibutuhkan sebagai pendukung.

Pada buku bab IV dapat dimasukkan tabel, grafik, foto-foto kegiatan maupun hasil penelitian yang menyatu dalam buku. Bab IV tidak lagi berisi data mentah seperti nilai dari setiap siswa berikut namanya. Foto pun hanya sekedar yang dibutuhkan sebagai pendukung.


5. Modifikasi Bab V

Pada laporan hasil penelitian, bab V biasanya diberi judul PENUTUP. Judul tersebut dapat dipertahankan. Hanya saja, isi bab tidak hanya simpulan dan rekomendasi (saran) saja, namun ditambahkan temuan yang terkait dengan hasil penelitian.


6. Modifikasi Lampiran

• Lampiran yang disertakan hanyalah instrument penelitian atau data matang yang mendukung, bukan data-data mentah.

• Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mengkonversi KTI menjadi buku:

A). Keaslian laporan hasil penelitian. Tindakan Plagiat tidak dibenarkan, terlebih karya seperti PTK kadang tidak dicek keasliannya. Namun saat diterbitkan jadi buku, maka penulis harus yakin betul bahwa karya yang akan diterbitkan memang oroginal punya penulis sendiri. Karya seperti skripsi, tesis apalagi desertasi akan langsung ketahuan jika plagiat karena sudah ada generate machine untuk pengecekannya.

B). Menghindari kompilasi yang terlalu banyak. Kalau karya seperti skripsi, tesis apalagi desertasi akan langsung ketahuan jika plagiat karena sudah ada generate machine untuk pengecekannya. Kegiatan sekedar meng-copas pendapat asli para pakar perlu dihindari dengan mengubah gaya penulisan kutipan.

C). Memilah dan memilih data yang dipublikasikan. Data matang saja yang disajikan agar buku berbobot.

D). Modifikasi bahasa buku. Hindari pemakaian penanda transisi “menurut”, “hal itu sesuai dengan pendapat”, “lebih lanjut si A menyatakan”, “berdasarkan hal tersebut”, termasuk menyebutkan kata “penelitian ini”, “peneliti”, bahkan “penulis”.

E). Hindari pengambilan sumber kutipan berantai atau pendapat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F). Wajib menuliskan semua daftar pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku.

G). Memperhatikan kaidah penyusunan buku ber-ISBN khususnya jika akan dinilaikan untuk KP sesuai Buku 4 PKB.

(Contoh: Misal modifikasi PTK Pak Eko, bab VI : Pembelajaran TIK dengan penerapan strategi Tim Quiz mampu menciptakan iklim belajar yang aktif, interaktif, kolaboratif serta dapat membangkitkan semangat belajar…… Strategi Tim Quiz yang diterapkan dapat berhasil jika ada dukungan ……. Sebaliknya jika dukungan tersebut kurang optimal maka capaian yang diharapkan dari Strategi Tim Quiz. Data mentah, misalnya data nilai keseluruhan siswa. Data matang : siswa yang mendapat KKM dan di bawah KKM kemudian disajikan dengan grafik. (1) Maksudnya kutipan berantai Si A seperti dikutip si B menyatakan bahwa…… Intinya ambil sumber pertama. Kutipan dalam buku tidak harus sama persis dengan kutipan di tesis, bisa berkurang bisa bertambah. (2) Buku ber-ISBN biasanya minimal 60 halaman).

CARA LEBIH LENGKAPNYA ADA DALAM BUKU PAK EKO BERIKUT:


Kesimpulan pertemuan kali ini adalah narasumber berusaha ‘menggelitik’ kita untuk membuat buku dari KTI yang kita miliki. Ini adalah sebuah tantangan yang sulit, namun menarik. Karena banyak aturan yang harus ditaati. Tetapi saya tidak akan gentar dan akan berusaha mencobanya. karena tim solid dari Om Jay akan siap membantu. Pun senantiasa ingat pada passion kita, agar konsistensi menulis tetap terjaga.

”Jangan biarkan mata pena kita mengering menguap tak berarti” . Mari kita buktikan sebagai para satria pena berkomitmen dan konsisten untuk terus bekarya.


Judul = “Skripsi Ternyata Bisa Dijual

Resume 4

Tanggal : 16 Januari 2023

Narasumber : Eko Daryono, S.Pd

Materi : Menulis Buku Dari Karya Tulis Ilmiah

Moderator : Nur Dwi Yanti, S.Pd






















Seni Berbahasa Ungkapkan Isi Hati

 

Sebelum kelas ini dimulai izinkan kan membalas rangkaian untuk sahabatku tersayang.

“Sahabat adalah kata sederhana yang acap kali merapal makna dalam jiwa. Pada sahabat kerap kita terbangkan kepingan kisah yang tersusun rapi. Sahabat adalah ia yang paling mengerti hati kita dalam lara nan pekat, meski kerap kita tancapkan luka, sang sahabat akan membalas dengan seribu pelukan.”

“Terkadang dalam hidup ada robekan paling tidak sopan yang menenggelamkan kita dalam tangisan, namun seorang sahabat membawa kita tertatih berjalan dan mengambil sisa tawa untuk masa depan. Menguatkan lewat doa dan menggenggam dengan Bismillah.”

 

“Gerimis itu masih kamu, pelan-pelan membasahi dengan sejuk yang tak ingin kusudahi”., balas Ibu Widya

 

“Terimakasih Bestie ku tersayang, aku mengenalmu dari deret huruf sebagai batas ucap yang mempesona. Lewat beranda virtual engkau goreskan kata, menjadi sebuah warna. Meski ada sapa yang ku abaikan, namun engkau perjuangkan  hingga sang Tunas pun muncul, bunga semerbak harum matang buah sedap nan ranum. Kau merawatnya, menyirami tanpa mengeluh, memupuk dengan sabar hingga memanen sebuah benih bernama persahabatan.”, jawab Ibu Maydearly.

 

Itulah cuplikan awal, dalam pertemuan ke-18 dari Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 ini, dimana mala mini narasumber oleh Ibu Maydearly dan ditemani oleh moderator Ibu Widya Althabisma.


Tema materi malam ini, tentang Diksi & Seni Bahasa, dimana Ibu Maydearly menjelaskan pengertian dari kata Diksi – akar katanya dari bahasa Latin: dictionem. Kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction Kata kerja ini berarti: pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif. Sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.


Dalam sejarah bahasa, Aristoteles – filsuf dan ilmuwan Yunani inilah yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam Poetics– salah satu karyanya. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya. 


William Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.

 

Mengapa Diksi begitu penting dalam kajian sebuah bahasa?

Sebab banyak keindahan  atas sebuah kata yang tak tereja oleh bibir.

Diksi bak pijar bintang di angkasa yang menunjukan dirinya dengan kilauan, mempesona dan tak membosankan.

Lantas, apakah begitu sulit kita dalam berdiksi?

Terkadang banyak penulis yang merasa takut dalam memulai sebuah tulisan, terkadang lidah kita merasa kelu untuk menulis sesuatu yang menakjubkan. Ada keraguan yang dibungkam sebelum diterjemahkan dalam bahasa.

Apakah mungkin saya bisa menulis sebuah bahasa yang indah?

Saya merasa takut tulisan saya terdengar garing ketika dibaca.

Menulis itu sederhana Bapak Ibu, Se-sederhana mengadukan gula dalam gelas kopi. Menulis dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita dengarkan. Lantas jurus apa yang harus kita pakai agar kita mampu menulis dengan segala keindahan. 


Libatkan 5 macam panca indera kita.

1. Sense of Touch adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya. Contoh: Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi.


2. Sense of Smell adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.Contoh: Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan dilangit harapan

3. Sense of Taste adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah. Contoh: Ku kecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari ku genggam Hp tangan  kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.

4. Sense of Sight adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya.  Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.Contoh: Derit daun pintu mencekik udara ditengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu hanya sebagai lamunan.

5. Sense of hearing adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar. Contoh: Derum kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening, tetapi terasa berat oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan yang menghakimiku untuk tak lagi merinduimu.



Judul = “Diksi & Seni Berbahasa Ungkapkan Isi Hati

Resume 18

Tanggal : 17 Februari 2023

Narasumber : Mydearly

Materi : Diksi & Seni Bahasa

Moderator : Widya

Kunjungi juga : https://www.kompasiana.com/luthfiiskandar1065/63f0fec608a8b50f6f2d02f2/belajar-diksi-seni-berbahasa-ungkapkan-isi-hati


Sabtu, 04 Februari 2023

Naskah Proklamasi, Tanda dilakukan Uji Baca (Proofreading)

 

[ Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ]

Bagi pemikir, buah fikirnya hanya akan bersemayam dalam fikiran jika tak diucapkan dan ditulis

Bagi pembicara, pembicaraannya hanya akan menguap lewat suara bila tak dituliskan

Bagi penulis ,tulisannya akan tersimpan dalam catatan jika tak dipublikasikan.

 Bagi penulis media, tulisnnya akan tertimpa materi tulisan lain jika tak dibukukan

Maka,.ucapkan dan tuliskan yang ada dalam fikiran.

  Publikasikan dan bukukan apa yang sudah ditulis.,agar banyak orang yang dapat membacanya.

Abadi dalam bentuk  kumpulan buah fikiran yang tertulis dan tersusun rapi dalam sebuah buku.


Itulah yang disampaikan oleh Moderator malam ini (Ibu Helwiyah, S.Pd.,M.M), dalam Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 dengan Bapak Susanto, S.Pd sebagai Narasumber.

Semakin lama, semakin saya rasakan sekali dukungan #semesta, terhadap kegiatan yang sedang saya ikuti ini, dimana malam ini, Tema materi yang disampaikan tentang ProofReading Sebelum Menerbitkan Tulisan. Alasan saya mengatakan bahwa #semesta mendukung adalah dikarenakan dalam waktu yang bersamaan saya sedang mengikuti kegiatan menulis Buku Solo dengan bimbingan langsung oleh Prof. Richardus Eko Indrajit.

Awal pembicaraan materi, Bapak Susanto menampilkan buku resume hasil karyanya, yang berjudul “Berani Menulis Dalam 20 Hari”. 

Secara umum, Proofreading dapat diartikan sebuah tindakan yang kita lakukan terhadap hasil karya tulisan kita dalam hal literasi, sehingga hasil karya kita mendekati dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan berdasarkan ejaan yang disempurnakan.

Selanjutnya, narasumber (Pak Susanto) menyampaikan, “Jika ingin mengetahui Apa, Mengapa, & Bagaimana Proofreading, silahkan simak resume yang saya dokumentasikan melalui link berikut:” (https://ahmadfatch.blogspot.com/2022/09/belajar-cara-menulis-pgri-gelombang-ke_19.html?m=0)

1. Pengertian Proofreading

Proofreading adalah membaca ulang kembali untuk memeriksa sebuah penulisan untuk mengetahui apakah ada yang salah atau tidak sebelum tulisan itu di publikasikan/diterbitkan atau dibukukan. Proofreading sangat berguna untuk meminimalisir kesalahan pada saat kita menulis di suatu media yang akan kita publikasikan atau cetak dalam bentuk buku.


2. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Proofreading  

Tugas seorang proofreader bukan hanya membetulkan ejaan atau tanda baca. Seorang proofreader juga harus bisa memastikan bahwa tulisan yang sedang ia baca bisa diterima logika dan dipahami. untuk itu harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Apakah sebuah kalimat efektif atau tidak?
  • Susunannya sudah tepat atau belum?
  • Substansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak?


3. Mengapa harus melakukan proofreading?

Karena untuk meminimalisir kesalahan dalam penulisan, untuk itu Proofreading merupakan tahapan penulisan yang sebaiknya tidak kita lewatkan. Terutama jika kita berniat untuk menerbitkan karya tulis kepada khalayak luas atau mempublikasikan, contohnya menulis di kompasiana.com atau di blog pribadi.


4. Kapan kita melakukan proofreading?

Melakukan proofreading beberapa saat setelah selesai menulis. menurut Bapak Padil (Supadilah) "Jangan terburu-buru mengirimkan artikel. Kita melihat kembali (review) tulisan adalah hal bijaksana yang harus dilakukan. Penggunaan bahasa baku dan tidak baku serta aturan teknis berkaitan dengan ejaan perlu diperhatikan".

Memeriksa tulisan dilakukan setelah tulisan selesai, BUKAN ketika kita sedang melakukan penulisan/tulisan masih jalan separuh atau baru dua paragraf, dan sebagainya. Bertindaklah sebagai seorang “calon pembaca”.

 

5. Langkah dalam melakukan proofreading? 

  • Merevisi draf awal teks. Membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan, atau menghapus seluruh bagian.
  • Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa, dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.
  • Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.
  • Mengecek ejaan. Ejaan yang kita tulis harus merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit.
  • Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI
  • Konsistensi nama dan ketentuannya
  • Perhatikan judul Bab dan penomorannya

Contoh penulisan kalimat :

Hari Minggu yang biasanya di gunakan untuk libur bersama, tetapi pada Hari Minggu, tanggal 18-09-2022 suamiku bersama teman-temannya mengadakan acara memancing ikan mas.
Pengulangan kata Hari Minggu (Hari ditulis huruf kapital?)
Lebih baik dibuat menjadi dua kalimat dan penulisan bulan di ganti menggunakan huruf

Contoh lain penulisan kata di .....

di + kata menunjukkan tempat (benda) >> di Jakarta (di pisah)
di + kata kerja >> disambung
di + peluk >> dipeluk (sambung, 'kan)

6. Hal-hal yang harus dihindari dalam penulisan

  • Hindari kesalahan kecil yang tidak perlu, misalnya Typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata
  • Hindari memberi spasi (spasi) kata dan tanda koma, tanda petik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya.

Setelah menyimak referensi yang diberikan oleh narasumber, dan demi pencapaian sebuah materi, maka narasumber (Bapak Susanto) memberikan materi dengan mengirimkan voicenote untuk menjelaskan pada Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional KBMN) Gelombang 28.Materi yang disampaikan diawali tentang Swasunting.

Dalam penjelasannya melalui rekaman VoiceNote, Pak Susanto menjelaskan, bahwa minimal terdapat 4 kegiatan yang harus diperhatikan dalam melakukan Swasunting, sebelum karya tulis kita dikirimkan untuk dipublikasikan, baik itu ke link situs kita ataupun ke penerbit.

 Empat (4) kegiatan yang dimaksud adalah;

1.       Endapkan tulisan Anda selama beberapa waktu

2.       Meminta teman/sahabat/orang terdekat untuk membaca tulisan kita

3.       Meminta seorang Proofreader

4.       Menggunakan “editing tools”




Selanjutnya, narasumber menampilkan sebuah gambar tentang “Writing” (Menulis), dimana arti dan makna dari gambar tersebut dijelaskan bahwa Proofreading berada pada posisi Ketika karya tulis kita benar-benar sudah selesai dikerjakan, dengan “kata lain” kegiatan proofreading tidak dilakukan saat karya tulis kita masih dalam proses pembuatan. Hal ini khawatirkan,karya tulis kita akan menjadi buntu (karena akan muncul rasa keraguan terhadap materi yang disampaikan, terhadap konten, tata Bahasa, kosakata, dan juga penulisan berdasarkan kaidah-kaidah penulisan yang berlaku), bahkan akan menjadi lebih parahnya lagi, akan tidak selesai karya tulis kita.

 

Alat yang digunakan untuk membantu kita melakukan proofreading, tentu saja KBBI dan PUEBI yang sejak 16 Agustus 2022 diganti dengan EYD. Ketetapan itu merujuk pada Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Ada beberapa perubahan misalnya: Perubahan kaidah, yaitu pengkhususan penulisan bentuk terikat maha- untuk kata yang berkaitan dengan Tuhan.

Pada ejaan sebelumnya, aturan penulisan kata terikat maha- ada yang dipisah dan digabung sesuai syarat dan ketentuannya.

Sementara pada EYD edisi V, aturan penulisan kata terikat maha- dengan kata dasar atau kata berimbuhan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan, semua ditulis terpisah dengan huruf awal kapital sebagai pengkhususan.

Contohnya: Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Pengampun.

Sedangkan Aturan penggunaan tanda baca, sepertinya tidak ada perubahan

sialakn menuju laman:  https://ejaan.kemdikbud.go.id/  berdampingan dengan KBBI untuk melakukan proofreading tulisan kita.



Setelah selesai menyampaikan materi, selanjutnya terbukalah sesi untuk tanya-jawab. Dan pada sesi Tanya-Jawab ini, ada sebuah respon jawaban yang menurut saya luar biasa diberikan oleh narasumber terhadap sebuah pertanyaan yang diajukan oleh peserta,sehingga respon jawaban tersebut melengkapi dan semakin membuat saya mengerti tentang apa yang dimaksud Proofreading.

 

Adapun salah satu pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut:
“Saya  Candra dari Jakarta. Saya izin bertanya. Apakah penulis penulis dulu itu memakai proofreading dalam membuat tulisanya?”

 

Maka jawaban Bapak Susanto sebagai narasumber, adalah sebagai berikut:

“Jangan dikira penulis-penulis dahulu tidak melakukan proofreading. Naskah proklamasi juga ada coretannya, tanda dilakukan uji baca atau yang disebut dengan proofreading.”

 

Sebagai penutup kelas, Bapak Susanto memberikan sebuah pantun kepada peserta, sebagai berikut:

Berbaris-baris dahulu,

memanjat dinding kemudian,

nulis-nulis saja dahulu,

lakukan proofreading belakangan.

*****


Judul = “Naskah Proklamasi..., Tanda dilakukan Uji Baca (Proofreading)

Resume 12

Tanggal : 3 Februari 2023

Narasumber : Susanto, S.Pd

Materi : Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Moderator : Helwiyah, S.Pd.,M.M

Kunjungi juga : https://www.kompasiana.com/luthfiiskandar1065/63dd5f173f640d37db185422/naskah-proklamasi-tanda-dilakukan-uji-baca-proofreading