Namun, apakah anda mengetahui dan memahami arti serta makna dari kata Passion tersebut?
Menurut Professor J Vellerand, melalui bukunya
“The Psychology of Passion ~ A Dualistic Model [2013]”;
Passion terbagi menjadi dua tipe, yaitu Passion Obsesi dan Passion
Harmoni. Kedua passion tersebut memiliki efek yang berbeda yang dapat
berdampak pada seorang individu yang bersangkutan.
Mengutip dari laman
https://www.gramedia.com/best-seller/passion/
, berikut penjelasan terhadap pengertian Passion Obsesi & Passion
Harmoni berdasarkan teori yang disampaikann oleh Professor J.Vellerand.
Passion Harmoni
Passion harmoni membuat anda lebih bahagia, karena dalam aktifitas sehari-hari
tidak ada konflik antara aktifitas dengan nilai kepribadian yang dianut.
Sehingga langkah yang akan anda tempuh menjadi terorganisir serta memiliki
tujuan yang jelas.
Passion Obsesi
Passion Obsesi adalah faktor eksternal yang menjadi landasan dan dorongan dari aktivitas Anda, contohnya mendapatkan gaji untuk dapat menafkahi keluarga.
Berbeda dengan passion harmoni yang akan membuat anda bahagia, Passion Obsesi merupakan passion yang membuat anda terpaksa untuk menjalani suatu aktifitas, walaupun tidak sesuai dengan nilai kepribadian anda. Sehingga efeknya akan membuat anda seperti robot atau kaku karena anda tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol hasil akhir yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anda.(sumber : https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ )
Lalu, pertanyaan adalah bagaimana cara menemukan passion kita sendiri? Dan masuk kedalam kategori “passion” apakah kita nanti?
Secara umum, pengertian dari passion itu adalah,suatu hal yang dikerjakan (secara terus menerus) yang dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan (tidak merasa bosan dan tidak memikirkan keuntungan ataupun kerugian dikemudian hari) serta suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar seseorang.
Mengutip dari dari laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/
, sang penulis artikel (Nandy), memberikan beberapa tips-tips dalam menemukan
passion yang ada pada diri anda sendiri. Berikut tips-tips yang diberikan oleh
Nandy dalam laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/
:
v Kedua,
Pikirkanlah aktivitas apa yang anda sukai serta aktivitas seperti apa yang
sering dan senang anda bicarakan
v Ketiga,
Anda dapat menuliskan sifat yang menjadi kelebihan serta kekuatan anda,
sehingga anda dapat mengetahui lebih jelas kelebihan-kelebihan anda.
v Keempat,
Renungi atau tanyakan kepada diri Anda sendiri tentang cita-cita maupun impian
pada masa kecil.
v Kelima,
Anda perlu memikirkan hal-hal yang akan mempengaruhi keputusan yang anda ambil
v Keenam,
tips terakhir coba bayangkanlah pekerjaan yang Anda jalani saat ini serta tanyakan
kepada diri anda sendiri apakah Anda bersemangat Ketika melakukan pekerjaan
tersebut? Kemudian apakah pekerjaan tersebut membuat anda Bahagia?
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
"Menjadikan Menulis Sebagai Passion". Itulah Tema materi yang diberikan oleh Ibu Ratu Antologi, seorang Penulis, Motivator dan Founder PMA Literasi Istikamah, dalam kegiatan pertemuan melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 pada tanggal 11 Januari 2023, yaitu Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.
Pada kesempatan tersebut, Ibu Sri Sugiastuti memberikan sudut pandangnya terhadap kegiatan menulis dapat merupakan sebuah passion yang hampir dimiliki oleh setiap orang.
Ibu Sri menjelaskan, “Kalau saya pribadi yang belajar menulisnya saat senja tentu saja ini Menulis bagian dari healing. Sudah usia 50 tahun bagaimana supaya bisa punya kacamata 5 Dimensi saat membaca menulis dan berbicara.”
Pertanyaan berikutnya yang hadir untuk Ibu Sri, dari salah satu peserta Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Angkatan 28, adalah “Apa hubungannya antara Menulis dengan Healing dan apa contohnya?”
Ibu Sri menjelaskan, bahwa, “Sebagai manusia tentu tak pernah lepas dari masalah. Dari mulai masalah upil yang sipil, sampai masalah yang besar dan menggurita. Nah disini kita perlu healing.Menulis bisa jadi satu solusi. Yang paling sederhana kita langsung mohon dan menuliskan masalah yang ada. Kita konsultasi pada Allah lewat tulisan. Setelah itu dibaca. Mau dimusnahkan atau mau diabadikan terserah saja. Dada menjadi lapang. Pikiran tenang dan masalah pun hilang.”
Melalui penjelasan Ibu Sri diatas terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peserta dalam sesi tanya jawab tersebut, maka sedikit saya coba artikan dari sudut pandang pribadi saya bahwa, untuk dapat memulai menjadi seorang penulis itu sangat mudah, karena dengan menceritakan segala peristiwa yang terjadi sehari-hari, mulai dari peristiwa rutin hingga peristiwa yang mungkin masuk kedalam kategori keluhan pribadi, dapat dijadikan sebuah inspirasi dalam menciptakan sebuah karya tulis, yang selanjutnya, hasil akhir dari tulisan kita ingin diabadikan ataupun dimusnahkan, bahkan tidak perduli orang suka ataupun tidak dengan tulisan kita, setidaknya satu permasalahan dapat terselesaikan.
Pertanyaan menarik lagi, muncul dari salah seorang peserta (dari Bapak Teguh ~ Bekasi), yang bertanya kepada Ibu Sri, yaitu “Apakah menulis di era digital masih relevan..ditengah banjirnya youtube, tiktok dan media media yang bisa mengirim pesan yg lebih visual ? Sebagai gambar sekarang orang suka nonton video dibanding membaca, bagaimana menjawab tantangan ini?”
Ibu sri mencoba menjawab pertanyaan dari Bapak Teguh ~
Bekasi, sebagai berikut,
“Terima kasih pertanyaannya Pak Teguh. Jangan risau dengan adanya
digital, tik tok juga youtube. Percayalah kegiatan Literasi bisa dalam bentuk
buku atau ebook.
Untuk
menjawab tantangan ini sering adakan lomba dan menghidupkan Literasi di segala
lini. Supaya laris manis kita harus memiliki teknik marketing yang jitu.”
Benar apa yang disampaikan oleh Ibu Sri, bahwa tidak perlu risau dengan hadir & berkembangnya media social di era digitalisasi ini. Namun bila boleh saya sedikit menambahkan respon jawaban dari Ibu Sri terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Bapak Teguh ~ Bekasi, bahwa justru dengan berkembangnya media social seperti Instagram, Youtube, Tik Tok, Twetter, dan sebagainya, dapat kita jadikan sebagai media yang memudahkan kita untuk promosi terhadap tulisan-tulisan yang sudah kita buat. Manfaat media-media tersebut untuk lebih memperluas karya tulis kita.
Contoh yang bisa kita lakukan untuk men-sinergik’an, seperti halnya kita mencoba membuat karya tulis berupa Tutorial dari sebuah aplikasi komputerisasi, yang mungkin dulu hanya dapat kita miliki dengan membeli sebuah buku, namun kini melalui media digitalisasi dapat kita temukan dan mudah untuk membaca-nya.
Pertanyaan menarik lainnya diutarakan oleh Ibu Rinrin Siti Maemunah (Bandung Barat), yang mempertanyakan tentang, “ketika saya punya topik untuk ditulis,susah mulai kata kata awalnya, bagaimana cara memulai menuangkan ide?”
Lalu Ibu Sri menjawab, “Untuk memulai satu tulisan kalau yang non fiksi bisa berkiblat pada buku ajar atau buku karya ilmiah. Sedangkan untuk fiksi. Kalimat pertama atau istilahnya LEAD dibuat semenarik mungkin. Bisa dengan kutipan, dialog atau pertanyaan yang membuat pembaca penasaran.”
Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus menyerang Ibu Sri pada saat pertemuan tersebut, namun tentunya saya tidak bisa menuliskan satu-per-satu semua pertanyaan dan jawaban yang disampaikan oleh Ibu Sri.
“Kita tiada lain adalah apa yang kita sendiri pikirkan, rasakan, dan lakukan”
Akhir
kata, untuk menutup tulisan artikel saya ini terhadap materi yang disampaikan oleh
Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar
Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28, ijinkan saya mencoba merangkum melalui
sebuah kalimat, “Kita tiada lain adalah apa yang kita sendiri pikirkan,
rasakan, dan lakukan”.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar