Senin, 16 Januari 2023

Just Do It...!!


Kata “Passion” tentunya tidak asing terdengar ditelinga kita bukan? Bila kita sedikit membuka memori, bahwa kata Passion ini sudah pernah kita dengar sejak dibangku sekolah tingkat pertama (Sekolah Menengah Pertama = SMP). Bahkan tanpa kita sadari, kata Passion sempat terucap dari mulut kita sendiri saat memberikan sebuah pernyataan bijak kepada anak kita (baik kepada anak kandung sendiri maupun kepada anak didik disekolah).

Namun, apakah anda mengetahui dan memahami arti serta makna dari kata Passion tersebut?

Menurut Professor J Vellerand, melalui bukunya “The Psychology of Passion ~ A Dualistic Model [2013]”; Passion terbagi menjadi dua tipe, yaitu Passion Obsesi dan Passion Harmoni. Kedua passion tersebut memiliki efek yang berbeda yang dapat berdampak pada seorang individu yang bersangkutan.

Mengutip dari laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ , berikut penjelasan terhadap pengertian Passion Obsesi & Passion Harmoni berdasarkan teori yang disampaikann oleh Professor J.Vellerand.

Passion Harmoni

 
Tipe Passion Harmoni merupakan Passion yang Postif. Hal ini dikarenakan seorang individu dapat melakukan suatu hal karena senang, cinta, dan seirama dengan hal-hal yang disukai akan hal tersebut. Contohnya apabila Anda menjadikan hobi anda sebagai pekerjaan atau sumber pendapatan.

Passion harmoni membuat anda lebih bahagia, karena dalam aktifitas sehari-hari tidak ada konflik antara aktifitas dengan nilai kepribadian yang dianut. Sehingga langkah yang akan anda tempuh menjadi terorganisir serta memiliki tujuan yang jelas.

Passion Obsesi

Passion Obsesi adalah faktor eksternal yang menjadi landasan dan dorongan dari aktivitas Anda, contohnya mendapatkan gaji untuk dapat menafkahi keluarga.

Berbeda dengan passion harmoni yang akan membuat anda bahagia, Passion Obsesi merupakan passion yang membuat anda terpaksa untuk menjalani suatu aktifitas, walaupun tidak sesuai dengan nilai kepribadian anda. Sehingga efeknya akan membuat anda seperti robot atau kaku karena anda tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol hasil akhir yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anda.(sumber : https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ )

Lalu, pertanyaan adalah bagaimana cara menemukan passion kita sendiri? Dan masuk kedalam kategori “passion” apakah kita nanti?

Secara umum, pengertian dari passion itu adalah,suatu hal yang dikerjakan (secara terus menerus) yang dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan (tidak merasa bosan dan tidak memikirkan keuntungan ataupun kerugian dikemudian hari) serta suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar seseorang.

Mengutip dari dari laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ , sang penulis artikel (Nandy), memberikan beberapa tips-tips dalam menemukan passion yang ada pada diri anda sendiri. Berikut tips-tips yang diberikan oleh Nandy dalam laman https://www.gramedia.com/best-seller/passion/ :

      v  Pertama,  Pikirkanlah hal atau aktivitas yang membuat anda merasa Bahagia.

v  Kedua, Pikirkanlah aktivitas apa yang anda sukai serta aktivitas seperti apa yang sering dan senang anda bicarakan

v  Ketiga, Anda dapat menuliskan sifat yang menjadi kelebihan serta kekuatan anda, sehingga anda dapat mengetahui lebih jelas kelebihan-kelebihan anda.

v  Keempat, Renungi atau tanyakan kepada diri Anda sendiri tentang cita-cita maupun impian pada masa kecil.

v  Kelima, Anda perlu memikirkan hal-hal yang akan mempengaruhi keputusan yang anda ambil

v  Keenam, tips terakhir coba bayangkanlah pekerjaan yang Anda jalani saat ini serta tanyakan kepada diri anda sendiri apakah Anda bersemangat Ketika melakukan pekerjaan tersebut? Kemudian apakah pekerjaan tersebut membuat anda Bahagia?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ 

"Menjadikan Menulis Sebagai Passion". Itulah Tema materi yang diberikan oleh Ibu Ratu Antologi, seorang Penulis, Motivator dan Founder PMA Literasi Istikamah, dalam kegiatan pertemuan melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28 pada tanggal 11 Januari 2023, yaitu Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

Pada kesempatan tersebut, Ibu Sri Sugiastuti memberikan sudut pandangnya terhadap kegiatan menulis dapat merupakan sebuah passion yang hampir dimiliki oleh setiap orang.

 Hal ini diungkapkan oleh Ibu Sri, saat menjawab beberapa pertanyaan yang hadir kepada Ibu Sri Ketika sesi tanya-jawab dimulai, dimana salah satu pertanyaan yang hadir kepada beliau adalah .. “Mengapa Kita Menulis?”

Ibu Sri menjelaskan, “Kalau saya pribadi  yang belajar menulisnya saat senja tentu saja ini Menulis bagian dari healing. Sudah usia 50 tahun bagaimana supaya bisa punya kacamata 5 Dimensi saat membaca  menulis dan berbicara.”

Pertanyaan berikutnya yang hadir untuk Ibu Sri, dari salah satu peserta Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Angkatan 28, adalah “Apa hubungannya antara Menulis dengan Healing dan apa contohnya?”

Ibu Sri menjelaskan, bahwa, Sebagai manusia tentu tak pernah lepas dari masalah.  Dari mulai masalah upil  yang sipil, sampai masalah yang besar dan menggurita. Nah disini kita perlu healing.Menulis bisa jadi satu solusi. Yang paling sederhana  kita langsung mohon dan menuliskan masalah yang ada. Kita konsultasi pada Allah lewat tulisan. Setelah itu dibaca. Mau dimusnahkan atau mau diabadikan terserah saja. Dada menjadi lapang. Pikiran tenang dan masalah pun hilang.”

Melalui penjelasan Ibu Sri diatas terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peserta dalam sesi tanya jawab tersebut, maka sedikit saya coba artikan dari sudut pandang pribadi saya bahwa, untuk dapat memulai menjadi seorang penulis itu sangat mudah, karena dengan menceritakan segala peristiwa yang terjadi sehari-hari, mulai dari peristiwa rutin hingga peristiwa yang mungkin masuk kedalam kategori keluhan pribadi, dapat dijadikan sebuah inspirasi dalam menciptakan sebuah karya tulis, yang selanjutnya, hasil akhir dari tulisan kita ingin diabadikan ataupun dimusnahkan, bahkan tidak perduli orang suka ataupun tidak dengan tulisan kita, setidaknya satu permasalahan dapat terselesaikan.

Pertanyaan menarik lagi, muncul dari salah seorang peserta (dari Bapak Teguh ~ Bekasi), yang bertanya kepada Ibu Sri, yaitu “Apakah menulis di era digital masih relevan..ditengah banjirnya youtube, tiktok dan media media yang bisa mengirim pesan  yg lebih visual ?  Sebagai gambar  sekarang orang suka nonton video dibanding membaca, bagaimana menjawab tantangan ini?”

Ibu sri mencoba menjawab pertanyaan dari Bapak Teguh ~ Bekasi, sebagai berikut,

Terima kasih pertanyaannya Pak Teguh. Jangan risau dengan adanya digital, tik tok juga youtube. Percayalah kegiatan Literasi bisa dalam bentuk buku atau ebook.

Untuk menjawab tantangan ini sering adakan lomba dan menghidupkan Literasi di segala lini. Supaya laris manis kita harus memiliki teknik marketing yang jitu.”

Benar apa yang disampaikan oleh Ibu Sri, bahwa tidak perlu risau dengan hadir & berkembangnya media social di era digitalisasi ini. Namun bila boleh saya sedikit menambahkan respon jawaban dari Ibu Sri terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Bapak Teguh ~ Bekasi, bahwa justru dengan berkembangnya media social seperti Instagram, Youtube, Tik Tok, Twetter, dan sebagainya, dapat kita jadikan sebagai media yang memudahkan kita untuk promosi terhadap tulisan-tulisan yang sudah kita buat. Manfaat media-media tersebut untuk lebih memperluas karya tulis kita.

Contoh yang bisa kita lakukan untuk men-sinergik’an, seperti halnya kita mencoba membuat karya tulis berupa Tutorial dari sebuah aplikasi komputerisasi, yang mungkin dulu hanya dapat kita miliki dengan membeli sebuah buku, namun kini melalui media digitalisasi dapat kita temukan dan mudah untuk membaca-nya.

Pertanyaan menarik lainnya diutarakan oleh Ibu Rinrin Siti Maemunah (Bandung Barat), yang mempertanyakan tentang, “ketika saya punya topik untuk ditulis,susah mulai kata kata awalnya, bagaimana cara memulai menuangkan ide?”

Lalu Ibu Sri menjawab, “Untuk memulai satu tulisan kalau yang non fiksi bisa berkiblat pada buku  ajar atau buku karya ilmiah. Sedangkan untuk fiksi. Kalimat pertama  atau istilahnya LEAD  dibuat semenarik mungkin. Bisa dengan kutipan, dialog  atau pertanyaan yang membuat  pembaca penasaran.”

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus menyerang Ibu Sri pada saat pertemuan tersebut, namun tentunya saya tidak bisa menuliskan satu-per-satu semua pertanyaan dan jawaban yang disampaikan oleh Ibu Sri.

“Kita tiada lain adalah apa yang kita sendiri pikirkan, rasakan, dan lakukan”

Akhir kata, untuk menutup tulisan artikel saya ini terhadap materi yang disampaikan oleh Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd melalui Grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 28, ijinkan saya mencoba merangkum melalui sebuah kalimat, “Kita tiada lain adalah apa yang kita sendiri pikirkan, rasakan, dan lakukan”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar